Kami punya 8 tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday365
mod_vvisit_counterYesterday212
mod_vvisit_counterThis Week365
mod_vvisit_counterLast week1722
mod_vvisit_counterThis month9527
Kami punya: 8 tamu online
Your IP: 38.107.179.220
 , 
Today: May 27, 2012


Indonesia Bertolak Belakang dengan Sikap AS demi Palestina Merdeka
Ditulis oleh Abdul Muchid   
Jumat, 30 September 2011 00:00

Setelah sehari sebelumnya meminta hal yang sama kepada para anggota Gerakan Non-Blok, Indonesia mengimbau negara-negara anggota Organisasi Kerja sama Islam (OKI) untuk juga memberikan prioritas dukungan kepada upaya Palestina menjadi negara anggota ke-194 PBB.

"Kita harus mengumpulkan semua kekuatan untuk mendorong komunitas internasional yang belum mengakui negara Palestina. Mereka harus segera memberikan pengakuan tanpa ditunda-tunda. Demi keadilan," kata Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa pada pertemuan Koordinasi Tahunan tingkat Menlu OKI di sela sesi ke-66 Sidang Majelis Umum PBB.

Negara-negara anggota PBB diperkirakan akan semakin gencar melobi satu sama lain guna menggalang dukungan berkaitan dengan permohonan resmi yang telah disampaikan oleh Palestina untuk menjadi negara anggota penuh PBB.

Seperti yang diumumkan Presiden Palestina Mahmud Abbas saat berbicara pada Sidang Majelis Umum PBB, Jumat, surat permohonan Palestina untuk menjadi anggota tetap PBB itu telah disampaikan kepada Sekretaris Jenderal PBB Bank Ki-moon.
Selanjutnya Sekjen PBB akan meneruskan permohonan Palestina kepada Dewan Keamanan, yang bertugas mengeluarkan rekomendasi melalui resolusi jika dewan yang terdiri dari 15 negara itu menyetujui permohonan Palestina.

"Keanggotaan (Palestina) tersebut akan menjadi perjuangan panjang rakyat Palestina menikmati hak-haknya untuk merdeka," kata Marty.
Selain menghadiri pertemuan Menlu OKI, sepanjang Jumat waktu AS ini, Marty Natalegawa menghadiri berbagai pertemuan multilateral maupun bilateral, termasuk membuka hubungan diplomatik dengan El Savador dan Antigua-Barbuda.

Marty juga bertemu dengan Menlu Australia Kevin Rudd dan Menlu Timor Leste Zacarias Albano da Costa. "Kita membahas berbagai kerja sama teknis, termasuk bidang pendidikan, kelautan, infrastruktur dan lain-lain, juga isu di kawasan khususnya soal ASEAN dan Southwest Pacific dialog," katanya.

Marty juga menyampaikan pernyataan Traktat Pelarangan Menyeluruh Uji Ledak Nuklir

Apa Kata AS?

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Hillary Clinton, mendesak Israel dan Palestina untuk menerima usul kuartet perantara perdamaian internasional untuk memulai lagi pembicaraan damai.

"Kami minta pada pihak-pihak itu untuk meraih keuntungan dari kesempatan untuk kembali ke pembicaraan ini," kata Hillary Clinton setelah kuarter perdamaian yang melibatkan AS, Rusia, Uni Eropa dan PBB meminta pihak-pihak itu untuk memulai lagi pembicaraan dalam sebulan.
"Usulan Kuartet itu menyampaikan keyakinan kuat masyarakat internasional bahwa perdamaian yang adil dan kekal hanya dapat datang melalui pembicaraan pihak-pihak itu," katanya.

Kuartet Timur Tengah itu pada Ahad (25/9) minta pihak-pihak itu untuk memulai lagi pembicaraan damai dalam sebulan dan berkomitmen untuk mengusahakan perjanjian pada akhir 2012, setelah Palestina secara resmi minta PBB untuk mengakui Palestina sebagai negara anggota penuh.

AS telah berjanji untuk memveto upaya sepihak itu di Dewan Keamanan PBB, dengan alasan bahwa dimulainya lagi pembicaraan langsung antara Israel dan Palestina merupakan jalan nyata satu-satunya ke perdamaian dan negara. Pembicaraan langsung terhenti pada September 2010 ketika Israel tidak memperbarui pembekuan sebagian pembangunan permukiman di Tepi Barat yang diduduki.

Benarkah Perdamaian Solusi?

Upaya perdamaian seringkali dijadikan sebagai pemanis dan penghibur opini publik dalam menyelesaikan pertikaian Palestina-Israel. Tak diragukan lagi, upaya perdamaian yang selama ini dilakukan dengan melibatkan Gedung Putih dan kroni-kroninya di Timur Tengah, bukan hanya tidak menyelesaikan masalah, tapi juga memperumit, bahkan memberikan ruang kepada Zionis Israel untuk semakin brutal. Menurut para analis, solusi perundingan dengan Israel sama halnya dengan berlanjutnya kejahatan dan arogansi rezim ini.

Selama ini, Tel Aviv terbukti sebagai pihak yang selalu melanggar kesepakatan yang seringkali diistilahkan dengan perdamaian. Bahkan Jalur Gaza kini masih diblokade. Semua bantuan kemanusiaan ke Gaza dilarang masuk oleh Israel, bahkan dihadapi dengan senjata. Ini semua menunjukkan bahwa Zionis Israel tidak serius menyelesaikan masalah. Kemudian apa yang diharapkan dari perdamaian dengan Zionis Israel?!!

Barat, khususnya AS, terus menawarkan perundingan. Melalui perundingan itu, Zionis Israel mempunyai peluang untuk terus memperluas wilayah pendudukannnya dan membanngun permukiman di tanah air bangsa Palestina. Bagi Zionis, perundingan merupakan cara efektif untuk mengulur waktu. Dengan cara inilah, Zionis Israel mempunyai kesempatan untuk menduduki Palestina secara penuh. Ketika diduduki penuh, isu perundingan akan kehilangan makna dan Palestina pun akan musnah. Inilah yang dikehendaki Zionis Israel dan AS dalam bungkus manis dan toleran. Namun pada faktanya, bungkus itu dipenuhi dengan konspirasi picik.(AR/ant/irb/prs)

 

 
Tema artikel apa saja yg perlu kami sajikan ?
 

Donasi Pemberdayaan Yatim

Banner