Kami punya 8 tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday365
mod_vvisit_counterYesterday212
mod_vvisit_counterThis Week365
mod_vvisit_counterLast week1722
mod_vvisit_counterThis month9527
Kami punya: 8 tamu online
Your IP: 38.107.179.216
 , 
Today: May 27, 2012


Ditemukan Kandungan Mikroba Berlebih pada Jajanan Anak Sekolah
Ditulis oleh Dhiswantoro   
Selasa, 13 Desember 2011 12:02

Masih saja ditemukan zat berbahaya pada jajanan anak-anak. Belum lama ini Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Pontianak mendapatkan temuan adanya kandungan mikroba yang melebihi ambang batas pada jajanan anak sekolah.

 

“Data ini dari hasil mobil laboratorium keliling, serta hasil sampel dan pengujian pangan jajanan anak sekolah pada 2010 dan 2011,” ujar Kepala BBPOM Pontianak, Mustofa di Pontianak.

Pada 2010, mobil laboratorium keliling BBPOM mengambil 228 sampel dari jenis makanan pentol, kerupuk, mie keriting, sosis, stik ikan, air selasih, air limun sasi, haikeng, dan lain-lain. Hasilnya 159 sampel atau 70 persen memenuhi syarat, sedangkan 69 sampel atau 30 persen tidak memenuhi syarat. Sampel makanan tidak memenuhi syarat karena hasil analisis menunjukkan adanya formalin sebanyak 54 sampel, boraks 4 sampel, dan rhodamin B 11 sampel.

Petugas juga mengambil sampel dan menguji pangan jajanan anak sekolah, diantaranya es cincau, sirup orange, mie rebus, tahu goreng, es limun, pentol, bakso, bakwan, es the, batagor, es doger, air tahu, es lilin, dan air jasjus. Total yang diambil sebanyak 121 sampel. Hasilnya 62 sampel atau 51 persen memenuhi syarat. Sebanyak 59 sampel atau 49 persen tidak memenuhi syarat karena mengandung ALT, formalin, boraks, siklamat, E coli, S aureus, coliform, kapang, dan rodamin. “Jika ditotalkan, pada 2010 diambil sebanyak 349 sampel. Sebanyak 221 sampel atau 63,32 persen memenuhi syarat dan 128 sampel atau 36,68 tidak memenuhi syarat,” kata Mustofa.

Pada 2011, petugas mengambil sampel pada 13 sekolah dasar di Kota Pontianak dan 10 sekolah dasar di Singkawang. Sampel yang diambil berasal dari sosis telur goreng, batagor, bakwan, keripik, es teh, selasih, bihun goreng, pentol goreng, bakso mie goreng, air tahu, sup mie asin, dan lain-lain.

Pada tahap satu, diambil 316 sampel. Hasilnya 264 sampel memenuhi syarat dan 52 sampel atau 16,46 persen tidak memenuhi syarat. Pada tahap 2, diambil 56 sampel. Hasilnya 39 sampel memenuhi syarat dan 17 sampel tidak memenuhi syarat. Makanan yang tidak memenuhi syarat ini mengandung ALT, formalin, boraks, siklamat, sakarin, dan MPN coliform.

“Total yang diambil pada 2011 sebanyak 441 sampel. Hasilnya 352 sampel memenuhi syarat, dan tidak memenuhi syarat 89 sampel atau 20,18 persen,” ungkap Mustofa.

Secara keseluruhan, lanjut Mustofa, hasil pengawasan BBPOM pada 2010 dan 2011 tentang pangan jajanan anak sekolah menunjukkan adanya perbaikan. Terbukti, penggunaan bahan berbahaya mengalami penurunan. Pada 2010, makanan yang mengandung bahan berbahaya sebanyak 23,50 persen dan tahun ini turun menjadi 16,46 persen. Makanan mengandung mikroba melebihi batas yang diperkenankan pada tahun lalu sebanyak 18,03 persen dan tahun turun menjadi 15,50 persen.

Pangan yang mengandung bahan tambahan melebihi batas yang diperkenankan sebanyak 13,22 persen dan tahun ini turun menjadi 2,85 persen. “Pangan jajanan anak sekolah ini menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan asupan gizi anak sebagai generasi penerus bangsa. Hasil survey menunjukkan 48 persen anak jajan 4 kali seminggu,” ungkap Mustofa.

Ia menambahkan hingga 2014 BBPOM secara nasional akan mengambil sampel dari 10 persen sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah di Indonesia. “Khusus di Kalbar diambil sebanyak 200 sekolah dasar pertahun. Target ini bukan menjadi milik BBPOM saja, tetapi juga stakeholder lain. BBPOM diharapkan berperan menjadi leading sector yang menggerakkan sector lainnya,” jelas Mustofa.

Asisten II Pemerintah Provinsi Kalbar, Lensus Kandri menambahkan pihaknya juga berkerjasama dengan BBPOM mengawasi pangan jajanan anak sekolah. Sebab, lanjut Lensus, ditemukannya makanan mengandung bahan makanan berbahaya menjadi masalah bagi pemerintah, karena berkaitan dengan derajat kesehatan masyarakat. “Kesehatan dan pendidikan itu berpengaruh terhadap indeks pembangunan manusia Kalbar,” kata Lensus. (Tg/Jpnn)

 
Tema artikel apa saja yg perlu kami sajikan ?
 

Donasi Pemberdayaan Yatim

Banner