Kami punya 8 tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday365
mod_vvisit_counterYesterday212
mod_vvisit_counterThis Week365
mod_vvisit_counterLast week1722
mod_vvisit_counterThis month9527
Kami punya: 8 tamu online
Your IP: 38.107.179.218
 , 
Today: May 27, 2012


Genderang Perang Ditabuh Karena Obama Tandatangani Sanksi Anti Minyak Iran
Ditulis oleh Dhiswantoro   
Minggu, 01 Januari 2012 19:50

Presiden Amerika Serikat, Barack Obama kemaren Sabtu (31/12) menandatangani sanksii anti Iran yang dirilis Kongres negara ini. Tindakan Obama ini membuat ketegangan di Teluk Persia semakin hebat. Tulis Fars News mengutip Wall Street Journal.

 

Menurut sumberi ini, langkah yang sebelumnya disepakati Kongres ini juga mencakup perusahaan asing yang memiliki transaksi dengan Bank Sentral Iran.Namun demikian Obama masih menunjukkan sikap agak lunak soal sanksi ini, namun timnya berusaha terus mengejar supaya sanksi ini membuat penjualan minyak Iran semakin sulit.

Seorang petinggi pemerintah AS terkait hal ini menandaskan, kami meyakini bahwa kami mampu melaksanakan kebijakan ini. Presiden akan menyadari pilihannya ini, namun kami berusaha menggapai tujuan dari sanksi yang disahkan Kongres dan kemudian disepakati presiden.

Masih menurut laporan ini, sejumlah petinggi AS mengklaim bahwa Tehran akan menilai langkah ini dengan sendirinya sebagai pengumuman perang. Langkah ini mungkin akan memaksa Iran menutup Selat Hormuz sebagai jalur terpenting pelayaran minyak ke dunia. Wall Street Journal mengaku bahwa meski Iran di atas kertas mampu menutup Selat Hormuz, namun hal ini sebenarnya mustahil dilaksanakan.

Keputusan baru ini disusun untuk memaksa negara dunia memilih bertransaksi dengan Iran atau Amerika. Undang-undang tersebut akan diberlakukan 60 hari mendatang, namun khusus transaksi minyak baru berlaku enam bulan mendatang.Mayoritas pengamat ekonomi dunia memperingatkan dampak ekonomi bagi kebijakan seperti ini. Ryan Powell, calon kandidat presiden dari kubu Republik juga menilai langkah ini sebagai pengumuman perang. (irb/MF/SL/prs)

 
Tema artikel apa saja yg perlu kami sajikan ?
 

Donasi Pemberdayaan Yatim

Banner