





![]() | Today | 145 |
![]() | Yesterday | 453 |
![]() | This Week | 1619 |
![]() | Last week | 2402 |
![]() | This month | 8711 |
Your IP: 38.107.179.220
,
Today: Feb 23, 2012
| Uni Eropa di Persimpangan Jalan: Kepentingan Nasional Atau Dikte Washington? |
| Ditulis oleh Dhiswantoro |
| Jumat, 13 Januari 2012 20:29 |
|
Berbagai cara ditempuh negara-negara Barat terutama AS untuk menjegal kemajuan negara lain yang tidak seirama dengan kebijakannya. Belum lama ini AS menjatuhkan sanksi baru terhadap Tehran, dan menyerukan supaya negara-negara dunia mengikuti jejaknya mengucilkan Tehran di arena internasional.
AS menjatuhkan sanksi baru terhadap bank sentral Iran, yang diikuti Uni Eropa terhadap industri minyak Tehran. Namun tampaknya gelombang tekanan sanki itu tidak berjalan mulus, karena sejumlah anggota dunia justru menentang keputusan sepihak tersebut. Setelah Jepang dan Korea Utara terang-terangan menyatakan akan tetap melanjutkan impor minyak mentah dari Iran, sejumlah negara Uni Eropa juga mendesak penangguhan sanksi blok ini terhadap industri minyak Iran. Sejauh ini anggota Uni Eropa gagal mencapai kesepakatan final tentang embargo minyak Iran. Sejumlah diplomat Eropa mengungkapkan kesulitan penerapan keputusan tersebut. Mereka menilai butuh waktu berbulan-bulan sebelum sanksi benar-benar diterapkan, karena beberapa anggota Uni Eropa telah meminta penundaan untuk melindungi perekonomian mereka yang dilanda utang dan krisis. Penentangan paling keras datang dari Italia, Yunani dan Spanyol. Pasalnya, impor minyak mentah ketiga negara itu dari Iran lebih dari 68 persen total impor negara anggota Uni Eropa. Yunani mengimpor sekitar seperempat kebutuhan minyak mentahnya dari Iran, adapun Italia sebesar 13 persen dan spanyol 10 persen. Bisa dibayangkan jika sanksi Uni Eropa terhadap Industri minyak Iran benar-benar diterapkan, maka perekonomian ketiga negara yang sedang dililit krisis ekonomi itu akan lumpuh. Negara-negara Uni Eropa merupakan pasar terbesar minyak mentah Iran dengan pasokan sekitar 450.000 barel per hari. Di saat negara-negara Uni Eropa masih mempertimbangkan untuk mengamini dikte Washington atau menyelematkan kepentingan ekonomi nasional mereka sendiri, Rusia mengingatkan Uni Eropa untuk tidak bergabung dalam sanksi minyak Amerika Serikat terhadap Iran. Moskow menilai langkah tersebut memiliki konsekuensi ekonomi yang getir bagi negara-negara anggota blok itu. Deputi Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov mengatakan bahwa negaranya tidak akan bergabung dalam sanksi AS dan Eropa terhadap sektor minyak Iran. Di luar Uni Eropa, sikap realistis telah diambil negara-negara dunia lainnya yang tidak mengindahkan sanksi atas Iran. Bagi mereka mengikuti dikte Washington mengucilkan Iran justru merugikan kepentingan nasionalnya masing-masing.(irb) |




