Kami punya 8 tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday365
mod_vvisit_counterYesterday212
mod_vvisit_counterThis Week365
mod_vvisit_counterLast week1722
mod_vvisit_counterThis month9527
Kami punya: 8 tamu online
Your IP: 38.107.179.218
 , 
Today: May 27, 2012


Timur Tengah Islam; Antara Realita dan Impian

MarkazNews - Timur Tengah Islam selain membuat para pemimpin despotik negara regional khawatir juga menjadikan demokrasi ala Barat mandul dengan terbukanya peluang bagi pemerintah independen dan berhaluan Islam berkuasa di kawasan. Selain itu, maraknya kebencian rakyat kawasan terhadap Amerika Serikat membuka kedok dan wajah asli negara adidaya ini sebagai imperialis sejati.

Program Timur Tengah Raya untuk pertama kalinya dicetuskan Colin Powell pada 12 Desember 2002 yang saat itu menjabat menteri luar negeri AS. Tujuan dari program ini adalah membantu negara-negara Arab untuk melakukan gerakan reformasi di bidang ekonomi, politik dan sosial. Rencana ini mendapat penentangan dari negara Arab dan Uni Eropa pun meragukan keberhasilan program Washington. Namun pasca serangan 11 September, program ini digarap secara serius.

Meski demikian, friksi antara AS dan Uni Eropa terkait mekanisme memajukan proses demokrasi di Timur Tengah membuktikan persaingan kepentingan di antara mereka di wilayah kaya minyak ini. AS sendiri menyadari bahwa program Timur Tengah Raya yang diusungnya akan berjalan lambat tanpa dukungan rakyat di kawasan, khususnya dengan sikap militeralisme sepihak Washington. Hal ini disadari sepenuhnya oleh Gedung Putih sebagai penghambat misi mereka.

Wacana Timur Tengah Islam muncul pertama kalinya setelah kekalahan Rezim Zionis Israel dalam perang 33 hari di Lebanon pada tahun 2006 untuk menandingi Timur Tengah Raya prakarsa AS. Namun pertanyaannya di sini, Apakah Timur Tengah Islam mampu berperan aktif menghadapi Timur Tengah Raya dan apa kendala yang bakal dihadapinya ?

Timur Tengah Islam akan mampu memberi alternatif lain di kawasan. Dengan demikian kecenderungan untuk menegakkan nilai-nilai Islam seperti keadilan, kehormatan dan kebebasan semakin terbuka. Timur Tengah Islam selain membuka peluang berdirinya pemerintahan independen dan berhaluan Islam, juga membikin pusing para pemimpin despotik di kawasan. Selain itu, program demokrasi ala Barat pun jadi mandul. AS, sebagai negara adidaya dunia pun tak luput dari imbasnya. Wajah asli Gedung Putih juga terkuak dan misi busuknya untuk menguasai sumber daya alam di kawasan terbongkar. Rezim Zionis Israel, pemicu instabilitas di kawasan dalam hal ini kian terpojok. Negara kawasan tidak akan bersedia mengakui rezim penjajah dan ilegal ini.

Munculnya Timur Tengah Islam kian kuat dengan meningkatnya peran Republik Islam Iran di tingkat regional. Pengaruh besar Iran di kawasan tak mungkin dibendung lagi. Barat, khususnya AS juga merasakan hal ini. Oleh karena itu, mereka dengan berbagai cara berusaha mencegah melebarnya pengaruh Tehran di kawasan. Sanksi, tudingan palsu dan berbagai tindakan lain ditempuh Washington untuk mengerem pengaruh Tehran.

Di sisi lain, kebangkitan rakyat Arab baru-baru ini juga kian membuka peluang terbentuknya Timur Tengah Islam. Aksi rakyat menentang penguasa despotik di kawasan benar-benar menjadi ujian berat bagi AS. Negara ini terpaksa mengkaji kembali kebijakannya di kawasan. Karena Washington telah kehilangan sejumlah mitra pentingnya akibat demo rakyat.

Jika Timur Tengah Islam terbentuk, maka kawasan ini yang memiliki jumlah penduduk beragama Islam yang cukup besar, dan letak geografisnya yang strategis serta cadangan energi besar yang dimilikinya akan berubah menjadi kekuatan tangguh dan pemain utama di tingkat internasional. Kekuatan ini bakal mampu menjadi saingan blok serta kekuatan lain di dunia, termasuk AS. (irb/Fars/MF)

 
Tema artikel apa saja yg perlu kami sajikan ?
 

Donasi Pemberdayaan Yatim

Banner