





![]() | Today | 144 |
![]() | Yesterday | 453 |
![]() | This Week | 1618 |
![]() | Last week | 2402 |
![]() | This month | 8710 |
Your IP: 38.107.179.218
,
Today: Feb 23, 2012
| Pentingnya Pendidikan Anak Dalam Kacamata Agama dan Keluarga yang Sehat |
| Ditulis oleh Abdul Muchid |
| Minggu, 01 Januari 2012 19:56 |
|
Kajian kali ini akan kita awali dengan menghadirkan sebuah kisah tentang kehidupan filsuf besar Socrates. Dikisahkan bahwa sebelum Socrates dihukum, mereka bertanya kepadanya, "Apa cita-citamu yang paling besar?" Socrates menjawab,
"Cita-citaku yang terbesar adalah berdiri di tempat yang paling tinggi di Athena dan berteriak kepada masyarakat, "Wahai para sahabatku, mengapa kalian menghabiskan detik-detik paling berharga dalam hidup untuk mengumpulkan harta benda dengan rakus, padahal semestinya kalian menghabiskan masa yang berharga itu untuk mendidik anak-anak kalian yang bakal mewarisi kalian." Pendidikan anak termasuk hal penting dan senantiasa menjadi perhatian sepanjang sejarah. Dalam al-Quran, Allah Swt lewat berbagai ayat menyinggung masalah pendidikan manusia, juga menjelaskan berbagai kiat yang tepat. Pendidikan anak adalah tugas paling penting yang diemban pertama oleh orang tua dan kemudian oleh para guru dan pendidik lainnya. Tidak diragukan lagi, menempa dan mengubah masyarakat ke arah yang positif dimulai dengan pendidikan anak. Jika anak yang tidak baik terjun ke tengah masyarakat, perilaku buruk mereka lambat laun akan berdampak negatif bagi masyarakat. Umumnya, perilaku buruk dan menyimpang muncul karena pola didik yang salah, atau karena kelalaian dan sikap acuh orang tua terhadap anak. Keluarga sebagai basis pendidikan berperan penting dalam mendidik anak, terlebih lagi di tahun-tahun pertama kehidupan mereka. Sebab di masa ini, mereka mulai merangkai pengalaman dan belajar. Keluarga juga lembaga pertama dan terpenting dalam pendidikan. Di sinilah anak-anak mulai mempelajari bermacam cara dalam berinteraksi. Oleh karena itu, keluarga berperan penting dalam membangun moral dan kepribadian anak. Dalam al-Quran surat at-Tahrim ayat 6, Allah Swt berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu." Dalam ayat tadi, Allah Swt mengingatkan orang tua yang beriman agar menjaga diri dan anak-anak mereka dari bahaya api neraka. Ini adalah pesan pendidikan kepada semua anggota keluarga. Lalu sebenarnya, apa yang dimaksud dengan pendidikan, dan fase apa saja yang perlu ditempuh? Para pakar ilmu perilaku mengatakan, pendidikan adalah langkah mengaktualkan segala potensi dan bakat. Orang tua sebagai manusia pertama yang terlibat dalam pendidikan anak, perlu menyusun formula pendidikan anak sesuai dengan kebutuhan batin dan fitrahnya. Mengetahui kebutuhan dan peluang dalam pendidikan termasuk hal penting dan mendesak. Oleh sebab itu, para psikolog menyarankan agar menghindari sikap terburu-buru dalam mendidik atau sebaliknya melalaikan pendidikan anak. Sebab, kebanyakan perilaku menyimpang lahir dari sikap terburu-buru atau menganggap sepele masalah pendidikan ini. Sifat-sifat mulia manusia ibarat mutiara dalam kerang, jika kerang dipecahkan sebelum waktunya, maka Anda akan mendapati mutiara yang masih belum sempurna. Perkembangan dan pendidikan anak memiliki aturan alamiah, dan harus ditempuh secara bertahap. Kita tidak dapat mempercepat proses ini, atau mengabaikan sebagian darinya. Karena hal ini bertentangan dengan fase alamiah pendidikan. Setiap usaha untuk menemukan jalan pintas karena keterburu-buruan dalam pendidikan justeru akan berdampak negatif dan destruktif. Sejak tahun-tahun pertama kehidupannya, anak mulai menemukan semua hal indah dan menyenangkan dalam hidup. Keceriaan dan kesenangan mengalir dalam dirinya layaknya sebuah sungai yang menderu. Hanya karena satu sebab yang kecil, ia tertawa riang dan sangat mudah terpengaruh. Anak memiliki rasa penasaran yang tinggi dan haus pengetahuan. Ia juga merasakan betapa orang tua menaruh perhatian dan luapan kasih sayang kepadanya. Oleh karena itu, ungkapan pendapat dan doktrin-doktrin positif atau negatif masyarakat akan terekam dalam benaknya. Semakin sering mereka mendengar pemikiran positif, maka jalan aktualisasi berbagai potensi dan kecakapan semakin mudah. Pertumbuhan ideal dan kesehatan anak sangat bergantung pada interaksi aktif dan komunikatif kedua orang tua dengannya. Berbekal pengetahuan yang cukup tentang dasar-dasar psikologi interaksi dengan anak, akan membantu kita dalam mendidik karakternya menjadi baik. Orang tua akan sangat berpengaruh di hadapan anaknya jika mereka juga punya persepsi positif terhadap sang anak. Dalam ungkapan lain, memandang anak sebagai hadiah dan amanah dari Allah Swt, dan menerima mereka sebagai insan yang potensial tanpa melihat perilaku menyimpang mereka. Pandangan seperti ini memungkinkan anak untuk menunjukkan jati dirinya, juga meluapkan perasaan. Pandangan positif terhadap anak merupakan bekal lahirnya rasa cinta dan kasih sayangnya terhadap kedua orang tua. Keluarga harus menjadi poros cinta, perhatian, dan rasa hormat, karena anak akan menjadikan kedua orang tuanya sebagai teladan lantaran kasih sayang yang ia dapatkan dari mereka. Salah satu cara mengungkapkan perasaan cinta kepada anak adalah bersikap sehati dengan mereka. Sikap sehati bukan berarti bersimpati dan merasa kasihan. Perasaan sehati, adalah usaha untuk memahami perasaan dan sekilas turut merasakan perasaan batin orang lain. Merasa sehati dengan anak menuntut pengertian orang tua terhadap mereka. Ketika anak merasakan pengertian orang tuanya, besar kemungkinan ia akan mengikuti tutur kata mereka. Jelas, jika anak diberi kesempatan untuk mengutarakan kebutuhan dan kekhawatiran emosionalnya, ia juga akan percaya kepada orang tuanya. Budaya Islam menaruh perhatian besar pada masalah cinta kepada anak, sebab anak adalah rahmat dan anugerah dari Allah Swt. Bahkan Rasul Saw menggolongkan tatapan penuh cinta seorang ayah terhadap anaknya sebagai ibadah. Hal ini menyiratkan tentang pentingnya tanggung jawab kedua orang tua terhadap anak. Dalam melaksanakan tugasnya, orang tua harus menggunakan cara-cara penuh kasih dalam mendidik anak mereka. Imam Shadiq sa sangat menekankan hal ini dan berkata, "Semoga Allah Swt merahmati orang yang mencintai anaknya." (irb/prs) |




