Kami punya 7 tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday367
mod_vvisit_counterYesterday212
mod_vvisit_counterThis Week367
mod_vvisit_counterLast week1722
mod_vvisit_counterThis month9529
Kami punya: 7 tamu online
Your IP: 38.107.179.220
 , 
Today: May 27, 2012


Nur (Cahaya) Bulan Ramadhan

Puasa adalah salah satu jalan untuk keluar dari jeratan rutinitas kehidupan sehari-hari dan mengandung manfaat yang begitu besar sehingga mampu mewujudkan revolusi spiritual dalam diri manusia.

Dalam kedokteran klasik, puasa memiliki posisi istimewa. Ibnu Sina, dokter sekaligus filosof terkenal Iran menulis suatu bab tersendiri tentang puasa sebagai terapi pengobatan dalam kitab al-Qanun. Begitu juga dalam kedokteran modern. Dr. Herbert Shelton menerbitkan sebuah buku bertajuk "Fasting Can Save Your Life" (Puasa Bisa Selamatkan Hidupmu) di AS. Ia meyakini, terapi puasa bisa menyembuhkan beragam penyakit seperti, obesitas (kegemukan), migren, alergi, tekanan darah tinggi, eksim, dan beberapa jenis penyakit kulit lainnya. Dalam bukunya, Dr. Shelton memperkenalkan puasa sebagai operasi tanpa bedah.

Dr. Alexis, pakar bedah inovatif dari Perancis menyatakan, "Saat berpuasa, keseimbangan tubuh dapat dijaga dengan cara mengendalikan mental dan hawa nafsu. Semua orang secara natural memiliki kecendrungan untuk melampiaskan naluri dan dorongan nafsunya. Namun jika seseorang terus-menerus menuruti dorongan nafsunya, niscaya akan menyeretnya menuju penyimpangan. Karena itu, nafsu harus benar-benar bisa dikendalikan. Tentu saja orang yang hanya makan dan tidur lebih rentan terkena penyakit ketimbang mereka yang makan secara cukup. Dengan menahan diri dan diet, keseimbangan antara fisik dan psikis bisa terwujud.

Selain memiliki manfaat sebagai terapi pengobatan, puasa juga bisa dimanfaatkan untuk mencegah beragam jenis penyakit. Rasulullah Saw dalam hadisnya bersabda, "Berpuasalah, supaya kamu menjadi sehat". Dalam hadisnya yang lain, Rasulullah menyebutkan bahwa lambung bisa menjadi sumber beragam jenis penyakit. Sementara pencegahan merupakan sebaik-baiknya pengobatan. Puasa juga bermanfaat untuk membersihkan saluran pencernaan dan menyehatkan badan. Di mata Imam Ali as, puasa adalah salah satu faktor terbaik dalam mewujudkan kesehatan bagi manusia.

Menurut kodekteran, puasa juga bisa membersihkan darah dan kelenjar limpa dari racun. Sel-sel yang mati bisa segera dimusnahkan dan diganti dengan yang baru. Dengan begitu, mereka yang berpuasa akan merasa menjadi lebih muda. Selain itu puasa juga bisa menghapus beragam potensi munculnya penyakit. Karena itu banyak dokter yang menyarankan latihan puasa dalam pogram kesehatan masyarakat.

Dari sisi psikologi puasa juga memiliki banyak manfaat. Ada banyak hadis yang mengungkap tentang pengaruh puasa terhadap kesehatan mental seseorang, seperti menenangkan pikiran dan hati, menyeimbangkan dorongan nafsu, dan meredakan ketegangan atau tekanan mental. Sejumlah peneliti menyimpulkan bahwa puasa bisa meningkatkan kemampuan daya kerja otak dan keterampilan emosi manusia. Selain itu puasa juga bisa meningkatkan kemampuan dan adaptasi seseorang dalam menghadapi masalah. Puasa selama sebulan bisa meningkatkan daya kontrol terhadap perilaku, kemampuan mental, dan ketahanan dalam menghadapi beragam stress dan tekanan.

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, puasa memiliki manfaat yang tidak terhitung, baik secara fisik, psikologis, maupun spiritual. Puasa memberikan latihan yang sangat bermanfaat bagi manusia dalam menahan hawa nafsunya. Puasa menimbulkan semacam perlawanan dan pertahanan untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang salah. Sikap seperti ini, yaitu kemampuan menahan diri dari perbuatan yang sesat, merupakan sebuah bentuk ketakwaan. Allah Swt dalam Surat al-Baqarah ayat 183 berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu. Mudah-mudahan kalian menjadi orang yang bertaqwa."

Ayat ini menunjukkan bahwa pengaruh terbaik dari puasa adalah ketakwaan. Takwa bermakna menjaga dan melindungi diri dari perbuatan dosa dan polusi. Sebagian ulama menasehatkan, agar kita bisa mencapai ketakwaan, kita harus menjauhkan diri dari kondisi dan lingkungan yang penuh dosa. Sebagaimana orang yang ingin melindungi diri dari penyakit menular, jelas dia harus menjauhkan dirinya dari para penderita penyakit menular tersebut. Namun demikian, ketakwaan juga akan diuji melalui berbagai ujian dan cobaan untuk membuktikan kesungguhan takwa seseorang.

Takwa bagaikan rem yang akan menahan manusia dari langkahnya ke arah kesesatan dan kesalahan. Orang yang selalu berusaha menjaga dirinya, setiap kali ia digoda oleh was-was setan, meskipun mungkin saja awalnya dia lalai, namun Allah akan mengingatkannya dan diapun akan kembali ke jalan yang benar. Orang yang bertakwa jiwanya akan selalu waspada terhadap segala hal yang akan membuatnya tergelincir ke lembah dosa. Namun demikian, untuk mencapai posisi takwa, manusia harus melakukan latihan yang terus-menerus, di antaranya melalui puasa.

Imam Ali kw bersabda, "Ketakwaan adalah benteng yang kuat bagi orang yang berlindung di dalamnya." Meskipun takwa diiringi oleh berbagai pembatasan, namun pembatasan ini akan memunculkan kekebalan, sebagaimana kekebalan manusia terhadap suatu penyakit. Oleh karena itu, sebagian cendikiawan menilai bahwa konsep takwa tidak hanya terbatas ke dalam agama Islam saja. Setiap orang berdasarkan prinsip-prinsip kemanusiaan, moral, atau agama, dapat menerapkan pembatasan-pembatasan terhadap dirinya sendiri. Melalui pembatasan-pembatasan ini, cahaya makrifat dan kemanusiaan akan menerangi dirinya dan pada saat itulah ia mencapai posisi takwa.

Herbert Spencer, seorang filsuf terkenal Inggris, mengatakan, "Manusia akan mencapai tahap kesempurnaan, ketika dia memiliki penguasaan penuh atas nafsunya sendiri. Tujuan tunggal dari pendidikan moral adalah manusia tidak lagi tertawan oleh nafsunya sendiri dan dia secara penuh mampu mengontrol hawa nafsunya itu. Untuk mencapai hal itu, sebelum segala sesuatunya, ia harus kembali kepada akal dan nuraninya lalu secara hati-hati ia mengambil keputusan."

Kini ada baiknya jika kita simak kembali sejarah Rasulullah Saww. Setelah hijrahnya kaum muslimin ke Madinah, Rasulullah menjalin perjanjian persaudaraan di antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Di antara mereka, ada dua lelaki yang saling berjanji menjadi saudara dan sepakat, bila salah satu di antara mereka pergi berperang, seorang lagi akan tinggal di Madinah untuk menanggung kehidupan keluarga saudara seagamanya itu. Dalam salah satu perang, salah satu dari dua orang ini bersama Rasulullah pergi keluar dari Madinah. Dengan demikian, saudara seagamanya akan tetap tinggal di Madinah.

Suatu hari, ia datang ke rumah keluarga si lelaki yang pergi perang itu untuk menanyakan apa saja yang diperlukan. Ketika ia melihat istri saudaranya itu, iapun jatuh hati dan berusaha berbuat maksiat. Si istri yang ditinggal suminya pergi perang itu lalu berkata, "Mengapa kau berkhianat atas amanat yang telah diserahkan kepadamu dan kau menyeleweng dari ketaatan kepada Tuhan?"

Mendengar perkataan tersebut, iapun tersadar dan merasa sangat malu. Dengan penuh penyesalan, ia pergi ke pegunungan Madinah dan di sana ia bermunajat kepada Allah untuk meminta ampun atas dosanya. Dia terus berdoa di sana, sampai akhirnya sahabatnya kembali dari medan perang. Setelah mendengar kejadian itu dari istrinya, sahabatnya itu pun datang menjumpainya dan menyatakan bahwa dirinya telah memaafkan kesalahan itu. Mereka berdua kemudian melangkah kembali ke kota Madinah dan menemui Rasulullah.

Ketika mereka tiba di tempat Rasulullah, Rasulullah sedang bersiap-siap untuk menunaikan sholat Ashar. Tiba-tiba, datanglah malaikat Jibril dengan membawa wahyu, yaitu ayat 135 sampai 136 surat Ali Imran, yang artinya sebagai berikut. "Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal."

Ada sebuah cerita bijak di jaman Imam As-Shadiq ra. Suatu hari, kota Madinah dipenuhi oleh suara hiruk-pikuk masyarakat yang tengah melakukan aktivitas keseharian mereka. Di sela-sela keramaian itu, tampak seorang pemuda yang duduk bersedih di sebuah sudut. Dari wajahnya yang pucat, terlihat bahwa dia tengah didera sebuah tekanan jiwa yang sangat berat. Ia ingin sekali mencurahkan perasaan dan beban batinnya tersebut kepada seseorang, namun dia tidak memiliki satu sahabatpun.

Tiba-tiba pemuda itu teringat kepada Imam As- Shadiq , cucu Rasulullah yang sangat terkenal kebaikan hati dan kedermawanannya. Pemuda itu pun segera bangkit dan berjalan menuju ke rumah As- Shadiq.

Ketika pemuda itu tiba di hadapan As-Shadiq , dengan perasaan tertekan dan malu, ia berkata, "Saya sangat terbiasa melakukan perbuatan dosa, namun saya tidak menyukainya. Apa yang harus saya lakukan agar saya terbebas dari kebiasaan untuk berbuat dosa ini? Demi Allah, bantulah saya dalam masalah ini." As-Shadiq dengan sikapnya yang tenang dan wajah yang memancarkan ketulusan hati, berkata, "Karena engkau telah terbiasa melakukan perbuatan dosa, perhatikanlah beberapa syarat berikut ini. Pertama, lakukanlah perbuatan dosa itu di tempat yang tidak terlihat oleh Allah Swt."

Pemuda itu menjawab, "Kemanapun saya pergi, saya tidak bisa bersembunyi dari pandangan Allah." Imam Shadiq pun berkata, "Kalau begitu, keluarlah kamu dari wilayah kekuasaan Allah, karena bila kamu berbuat sesuatu di sebuah rumah yang melanggar ketentuan yang ditetapkan oleh pemilik rumah, itu artinya kamu telah mengkhianati si pemilik rumah."

Pemuda itu menjawab, "Wahai Putra Rasulullah, wilayah manakah yang bukan merupakan wilayah kekuasaan Allah? Semua tempat adalah milik Allah. As- Shadiq berkata, "Kalau begitu, sekurang-kurangnya janganlah makan sesuatu yang merupakan rizki dari Allah."

Mendengar perkataan Imam Shadiq, pemuda itu menjawab, "Bagaimana mungkin aku bisa memakan sesuatu yang bukan rizki Allah? Segala sesuatu yang aku makan dan minum, semuanya merupakan nikmat dan rizki dari Allah Swt." Imam Shadiq selanjutnya berkata, "Apakah ketika engkau melakukan semua dosa-dosa itu engkau akan mampu untuk menolak ketika para malaikat akan membawamu ke neraka jahannam?"

Sambil menangis tersedu-sedan, pemuda itu menjawab, "Hari itu adalah hari yang penuh bala dan bencana. Saya tidak akan memiliki pilihan apapun pada hari itu dan saya harus pergi ke neraka jahannam akibat dosa-dosa yang telah saya lakukan." Akhirnya,As-Shadiq berkata, "Kalau begitu engkau tidak bisa lagi membiarkan dirimu untuk melakukan dosa dan maksiat." (LV/irb/SL)

 
Tema artikel apa saja yg perlu kami sajikan ?
 

Donasi Pemberdayaan Yatim

Banner